Langsung ke konten utama

Bersama Kita Bisa.....Kita Sama Berbisa

 

Ketika kita berdusta,dari mulut berbusa busa
Walau bunyinya terdengar syurga
Tapi maknanya membawakan neraka
Hasilnya pasti mendatangkan celaka
 

Ketika kita tak jujur,benar salah jadi kabur
Walaupun bunyinya janjikan makmur
Tapi maknanya membuat kita kecebur
Hasilnya pasti mendatangkan hancur
 

Berdusta dan tidak jujur
Bukan prilaku yang baik
Kepercayaan pun terkubur
Kebersamaan pun tercabik
 

Lalu............
Antara kita dan kita..yang ada hanya curiga
Antara kita dan kita..saling takut diperdaya
Semua niat yang baik..Bisa  berarti terbalik
Disini ingin mendidik.Disana r a s a dibidik
 
Bersama pun kini tak rasa bersatu
Bersatupun kini tak terasa sama
Bersama pun kini kita tak bisa
Karena kita  sama sama berbisa
 
Bersama....kita bisa
Berbisa....kita tak sama
Bersama kita tak bisa
Kita sama sama berbisa
 
 

Bungdamai(PutNus} 29-03-2005
 

bung damai = damai bung = buang diam = biang madu = ngidam abu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......