Langsung ke konten utama

Kesaksian Generasi


 
      ---kepada Aldian Aripin

 

 
Betapa rabun aku, lengah

 
meraba gemuruh darah arus nadimu

 
Padahal galibnya hidup, degup gairah

 
harus disimpan sedalam jantung

 

 
: Aku memang lahir dari rahim zaman

 
di saat muak mencapai ubun

 

 
di mana lelaki melulu banci

 
kemunafikan diberi penghargaan

 
lalu iman pun, perjanjian dalam buku suci,

 
disisakan sekadarnya buat politik

 
dan basa basi

 

 
: Aku memang tumbuh di kerak generasi

 
di mana rasa kasih, ketulusan dan keadilan

 
sebegitu janggal di mata kalbu

 

 
hingga rindu membuat terpaksa

 
menyurai hilangnya seperti gila

 
dari suruk rimba kepalsuan yang rimbun

 
rumpun demi rumpun

 

 
: Aku memang remuk di lasak zaman ini---luluh lantak

 
tapi hidup bagiku berpantng kalah

 
sebab aku bukan terlahir banci

 

 
Bahwa kau ulurkan degup jantung itu

 
penuh kuterima gelisahmu---yang

 
olehnya aku semakin pasti

 
bahwa dalam luka pun

 
kita tak sendiri-sendiri

 

 

 
Senopati, 20 Juli 1994

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......