Langsung ke konten utama

Engkaukah Sepi


     Berarti pepohon yang dahanya belukar?
     Ia rentas menggamit rindu yang menjajah
     Pada kepingan-kepingan malam  terbuang
     Mengharap cecahya rembulan merah yang melayah
     Dari lubuk-lubuk tak bertuan
     Engkaukah sepi?  Dalam kembara yang tak bergugus
     Dan lamun nada terbiar aus
     Seperti dahaga di penghujung masa yang renta
     Dan angin menghamburkan debu-debu berterbangan
     Engkaukah sepi?  Dalam belantara tetunas nurani
     yang mendamba kuncup
     Karena nafsir jiwa dalam genggaman senyap cakrawala
     hk, 26 april 2006

 

    

Komentar

  1. berkesempatan menghayati puisi anda...saya sukakannya....

    BalasHapus
  2. Terimakasih menyukai puisi saya. Dari bahasa anda, saya menduga saudari ' Indah Sakinah' seorang penyajak juga. Salam untuk saudari.

    BalasHapus
  3. Selebaran senyap menawar malam dengan mimpi. dahaga dengan selimut mega menuang jejak-jejak di reranting. sepi melesatkan peluru kerumunan kunang. menari lentera ditiupan angin.

    sungguh luar biasa diksi yang menugal makna liris yang kau maksudkan...... aku suka dengan stilisasi yang kau ciptakan. Salam dari Ilalang Liar.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membincang Telimpuh Hasan Aspahani

Membaca puisi-puisi dalam Telimpuh, kumpulan puisi kedua Hasan Aspahani, ibarat menyimak percakapan yang digambar dengan berbagai teknik dan dipulas dengan warna-warna yang melimpah. Tengok saja: ”Lupakan aku,” ujarmu dengan suara pipih dan lembab di bingkai pertama, balon percakapan itu tiba-tiba pecah dan menjelma kabut, juga dingin dan kata-kata di dalamnya jadi percik rintik. Aku menggambar payung untukmu, tapi kau menolak dan meminta aku memelukmu: ”Biarkan aku basah dan hilang dalam sejarah ingatanmu.”

Secangkir Kopi Sepagi Ini

Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...

Dirimu ada di hati ini

  Bila jalan ini yang tlah kau beri hamba mu ini dengan gigih kan telusuri meski harus sulit nya menghadang smuanya itu kan ku terjang bayang mu hadir menjelma dikala aku terjaga yang menaungi perasaan jiwa kau bawakan segudang keindahan seberkas putih menyelimuti kemurnian perasaan hati merantai seakan turun.... ungkapkan sgala makna bayang mu tak pernah pudar... berikan kedamaian hati percikan sinar abadi yang menyentuh skujur tubuh dirimu tlah ada mengendap dalam hati ini seiring laju darah yang menggolak di tubuh.... takkan luluhkan semangat tuk gapai asaku terjang sgala rintang tuk ketuk pintu hati mu percayalah..... percayalah duhai dambaan ku...... hadirmu takkan pernah terganti karena dirimu ada di hati ku......