Bagian-bagian tubuhku telah bersetubuh dengan baju-baju Yang kau kenakan Aromanya masih bersatu dengan Lendir, liur, dan sisa-sisa ompol Lalu kita buang bersama baju-baju itu Dan bersiul girang Segera kau kenakan pakaian seadanya Pergi menjemput pagi Aku hanya menatap kau mendekati pintu Dan menyesali pintu itu kau tutup Kau hanya tersenyum genit dan berkedip Seraya berkata bahwa reformasi belum usai, tuntaskan revolusi Aku hanya tercengang, mulut ini tak hendak terkatup Seandainya kau membuat kopi sepagi ini Sepertinya hari ini kulalui dengan senyum Ah, tapi kau biasanya menyergah dengan Makian-makian dan menarikku untuk turun ke jalan Membentangkan spanduk, mencatat peristiwa-peristiwa Membawa megaphone, atau berteriak lantang Sesiang panas ini Orde-orde itu tak beranjak tumbang Lalu kau bekap mulutku dan menyerang otakku Supaya tidak pesimistis Pikiran-pikiranku kau susun kembali dan Kau ajak untuk berkeliling melihat-lihat Bermesraan bersama beberapa yang tersingkir Aku larut kemba...
berkesempatan menghayati puisi anda...saya sukakannya....
BalasHapusTerimakasih menyukai puisi saya. Dari bahasa anda, saya menduga saudari ' Indah Sakinah' seorang penyajak juga. Salam untuk saudari.
BalasHapusSelebaran senyap menawar malam dengan mimpi. dahaga dengan selimut mega menuang jejak-jejak di reranting. sepi melesatkan peluru kerumunan kunang. menari lentera ditiupan angin.
BalasHapussungguh luar biasa diksi yang menugal makna liris yang kau maksudkan...... aku suka dengan stilisasi yang kau ciptakan. Salam dari Ilalang Liar.