Langsung ke konten utama

Postingan

Penjahit dan Kainnya

peristiwa yang saya alami ini, tuanku tak segembira sepasang remaja yang menjalin benang-benang asmara di dada mereka tak pula sepasti runcing jarum atau tajam gunting ketika menusuk dan mengoyak jalinan badan saya karena sejak terjalin sebagai benang terpintal sebagai kain terendam di air sabun tergantung di lemari dan jemuran saya telah tunai meski ada yang terasa belum usai ketika melekat di tubuh anda menyerap keringat menjadi nostalgia, kebal pada panas-dingin cuaca (seperti ada yang tak mampu saya sembunyikan selain kulit atau penanda usia di tubuh anda) maka bersama seluruh perasaan anda, tuanku jahitlah bagian saya yang koyak agar tetap ada yang berdegub di dalam dada hingga tak akan ada perasaan bangga atau kecewa jika tiba-tiba saya, pintalan kain ini, anda sulap menjadi gaun atau kebaya Bandar Lampung, Mei 2009

Air dan Tanah yang Dijumpainya

kau selalu memintaku diam setiap kali kau kujumpai ”menggenanglah, barangkali di tubuhku kau telah lama ada” tapi aku ingin mengalir sambil menafsir liukan luka di tubuhmu menjadi tamu meski kita tak kunjung merasa bertemu mencari alamat meski tak pernah pasti setiap isyarat “tanpa kau, aku akan menyerpih menjadi debu” tak akan pernah cukup bagiku bila sekedar lesap ke tubuhmu ”apalah beda sebuah dunia bagimu bila hulu dan hilir terlahir sebagai dirimu sendiri” awal dan akhir bagiku ada pada matahari (ketika dua matahari jatuh di batas samudera ketika ombak membuka diri memanggil para penunggang pagi) aku mendengar dzikir musafir aku melihat daun-daun menguning “berulangkali kau terlahir dan kita selalu bertemu” bukankah aku menumbuhkan segala yang kau kandung? Tanjungkarang, Agustus 2009

Kamar yang Terbuka

bayang menunggangi malam keduanya lalu terbang hilang ... kelelawar pun terbang kelelawar tetap terbang engkau pula yang bertanya : "berapa dalam kematian?" ini kamar terbuka, cintaku dalam pasukan pasir waktu tak lengkap juga jawab yang diucapkan tak lengkap juga Tuhan yang dibayangkan. 03-04/2009

Penghentian sehari

Rekan Puitika.Net yang baik, Hari ini Puitika.Net sedang berpindah penyedia hosting. Untuk menghindari perbedaan antara data pada server lama dan server baru, kami menghentikan sementara arus masuk data (pengiriman naskah, komentar dan pendaftaran baru). Penghentian ini kami lakukan dalam rentang waktu sehari ini. Terima kasih atas perhatian dan kesabarannya. Salam hangat, Pengelola Puitika.Net

Puisi-Puisi Yosi M Giri

Kabut Yang Memataiku demi dingin yang menyertaiku pulang kampung, aku memoles malam dengan gemetaran hidup yang ditiupkan setiap jemari kuharap tak berhenti hanya karena jalanan ini sepi dan pengap tapi kerling itu, tak cukup menggangguku tidak juga kabut itu, aku hanya perlu menciumnya dan selebihnya kuhancurkan kugempur dan kau pun tahu, diam-diam mereka menyertaiku dan memataiku Bunga Pustaka, Maret 2009 --- Pada Sebuah Kata Di lorong-lorong hening Tiap pasang mata menjelma matahari Sinaran leluasa yang dikelabui kabut Jangan berharap kau dapat dekat mendekapnya erat Jika reruntuhan sesunyi itu telah meninggalkan riwayat Bakal api kembali debu Dan sesekali berteduh di rumah-rumah lebah Akankah kau percaya pada dinding Tempat dingin membentuk wajahmu Bersama surat-surat yang tak satu pun terbalas Walau hanya sebatas senyum dan angan Akhirnya, kata-kata menyembunyikan mereka Seperti pori-pori kulit dari kejauhan kau memandang Pendhapa Bunga Pustaka, 2009 --- Tuhan dan Semut Naka...