Langsung ke konten utama

Postingan

Nikmatnya Bencana

  Ketika bencana datang, dan semua yang kita cintai menghilang,setelah air mata tak lagi berlinang,pergilah kelubuk hati yang tenang.   Ada kebeningan nurani disana,yang  mengajakmu mengembara kealam pasrah ,lalu berserah Dan biarkan lah keluhuran budi yang masih tersisa didalam  kalbu itu memaknai segala peristiwa, lalu terus  bersemi didalam kebersihan nurani.   Kekosongan yang hampa bukan alasan untuk menebarkan kesepian jiwa, dialah yang mendatangkan keweningan pikiran, untuk berkelana menapaki jalan jalan lurus menuju cahaya......bintang-bintang yang terang   Keteguhan jiwa  menguatkan ayunan langkah langkah tekad semakin bulat, mewujudkan lagi impian impian ,menjadikannya kenyataan.   Kehilangan yang mengguncang akan dijadikan sarana penemuan hadirnya kebersamaan baru didalam lembah rasa keprihatinan.   Keterpisahan akibat direnggut bencana ,akan melahirkan kesadaran serba sementarnya semua keberadaan didalam kehidup...

Pram

Saat rumah kaca tak lagi di huni anak semua bangsa Jejak langkah tak menapak lagi di bumi manusia Hanya ada nyanyi sunyi seorang bisu Tidak ada lagi Gadis Pantai, Cerita Calon Arang, Hikayat Siti Mariah, Gulat di Jakarta, Pasar Malam, dan Cerita dari Blora Bukan juga karena arus balik para keluarga gerilya Tapi karena percikan revolusi telah mati Wahai sang pemula Di tepi kali bekasi ini aku bawa cerita dari Jakarta Ada perawan remaja dalam cengkraman militer Mereka bukan Larasati, Mangir, Arok Dedes dan Midah si manis bergigi emas Tapi mereka yang dilumpuhkan menjelang subuh Karena memenggal sepuluh kepala nica yang korupsi Dia yang menyerah Menggelinding menjadi perburuan (Mengenang guru kemanusiaan Pramoeya Ananta Toer 1926-2006)

Pembacaan Dan Musikalisasi Puisi R Timur Budi Raja

Pembaca yang budiman, beberapa saat yang lalu tanggal 15 Agustus 2006 diluncurkan antologi pusi "Aksara Yang Meneteskan Api" karya R Timur Budi Raja, seorang penyair dari Bangkalan Madura. Dari acara tersebut kru puitika membawakannya untuk anda. Anda bisa mendownload pembacaan dan musikalisasi yang dibawakan oleh penyair langsung saat di kafe Gama Malang. Anda cukup ke koleksi karya dan Pembacaan/Musikalisasi Puisi Acara Bertajuk Puisi dan segera nikmati !

Di Gajah Wong

    Tina dan Madhava     Kita tak pernah berencana duduk bersama di satu meja. Tapi irama gending dan suara lirih pesinden tua itu, seakan isyarat kita telah bersepakat.   Maka, anak 15 tahun angkat bicara " Aku minta lasagna ! Ayahku pengikut Kresna yang durhaka, hingga aku tersia-sia Ibuku menjadi janda"   Dan kau wanita yang menyimpan kecantikannya dalam jelaga. Tak kuasa menahan hati, akhirnya buka mulut pula " Aku wanita biasa meski nasibku tak biasa. Cukuplah hidangkan nasi goreng bebek jawa karena seorang Ksatria seorang Brahmin seorang Pecinta datang bergantian mengangkangiku hingga lahirlah anak-anak pilu"   Aku yang ngungun dalam diam hanya bisa berucap pelan pada pelayan   " Biarlah kusantap tomato soup dengan kuah darah yang menetes dari luka-luka mereka"     Jogjakarta, 2003

Siapakah Aku....Siapakah Kamu...Siapakah Kita

sering kita lupa bahwa kita ini pernah tiada sering pula kita lupa bahwa kita ini tiada daya Jika DIA tak menciptakan kita dari ketiadaan itu apakah bisa menuntut keberadaan ini....? Kita bukan siapa siapa.... bahkan bukan apa apa. ketika kita masih tiada , sebelum ke murahanNYA menciptakan kita.   Siapakah kita…? Kita   hanyalah ketiadaan............... Yang tak ada dalam gelap Yang tak ada dalam terang Yang tak ada didaratan Yang tak ada dilautan Yang tak ada diseluruh lapisan langit Yang tak ada diseluruh lekukan bumi Yang tak ada disetiap sisi ruang jagat raya Yang tak ada disemua bentangan waktu Bahkan sebenarnya TAK ADA DIKETIADAAN PUN. Renungkanlah....!!!!!! Untuk semua yang kini telah Berkenan diadakanNYA Lalu ketahuilah kemana kelak kita ditempatkanNYA. Masihkah kita memiliki ruang bagi kesombongan kita...?     PutNus 30-07-2006 Semakin kecil dalam keberadaan

Bibiku TKI

Derai gemerisik rambut kala itu, seperti gesekan hatiku. Masih kudengar omongan yang bagus tapi percuma. Jauh disebuah desa disana. Ada hati yang tak henti gelisah. Pulanglah bibi, pohon mangga yang dulu kau tanam didepan rumah sudah berbuah. Sering kami diam-diam bicarakanmu, walau sejenak bisu saat kami sadar, kami lemah. Ribuan hari lalu, duduklah buah hatimu diteras rumahmu yang kini reot, kulihat kosong asanya kala itu. Bibiku, andai aku bisa membuatmu yakin, semua sudah berganti cerita. Pulanglah bibi, yakinlah hati kami tak genap tanpamu.