Langsung ke konten utama

Postingan

Pastorale Paradiso

  Awal Juni meraut langit, layaknya kota kabut memutih, Dikelilingi hutan pinggir, mengitari tanah berlaut.   Hujan rintik yang mengantri, Ngengat-ngengat Tuhan dari Firdaus,                         Memadui Bumi, membangun peraduan,                                  Di sayap-sayap Burung,                                                             Di dedaun menaung.   Paruh-paruh mereka melengkingkan  ...

Pastorale Maggiore

Keheningan adalah kelamin padi Terbenam Lumpur Bila kerontang tiba Kesunyian menjadi cahaya   Rambut udara Melambai bagai selendang karnaval Dan tiba saatnya bagi kita Membangunkan Semenanjung Yang tertidur sepanjang pantai   Keheningan adalah nyanyi biduan Di palka-palka Bibir laut mencicipi aroma delta Sisa urin dan kelenjar fajar Di mulut kita Di pasir basah, ubur-ubur dan kura-kura Menciumi sisa cahaya   Seolah bukit berbincang dengan layar Menitipkan salam kepada laut Dan nelayan lupa bekal mereka Sepucuk surat untuk Rasi dan Orion   Kesunyian adalah canda ombak Pada bakau, kembali ke tengah   Kesunyian adalah tualang daun Di tubuh sungai Begitu pasrah, tak tahu arah Di bimbing ke laut Menemui ketakberartian Perbandingan dan keluasan   Kesunyian adalah aku yang dilupakan Ribuan tahun berbilang Kematian dan kelahiran   Keheningan adalah uap Yang menjadi hujan Meresap ke tanah Kembali digulung sungai Dan lautan   2006

Aku Ingin Menciummu

aku ingin menciummu langit yang memar bumi yang gemetar karena linu ngilu lindu gemeretak di sekujur tubuhmu aku ingin menciummu dengan senyuman dengan doa ketulusan karena kesedihan kusimpan diamdiam dalam rongga kesunyian aku ingin menciummu dengan kata dengan cinta karena ingin kau terima segala dengan bahagia malang, 1 juni 2006

Angin

Di sudut – sudut tebing angin mengalir menyusuri terjal dan lembabnya karang Mengitari lembah kemudian melewati kali…….. larut Di tengah kota angin tersiul dari mulut seorang pekerja membumbung bersama nikmat aroma bloody mary lalu membaur dalam pesta muda mudi ……….malam itu Dalam tidurku angin tak ubahnya permadani indah , mengumbar sayapnya Membentang bak cakrawala dan aku lihat engkau tersenyum lelap dalam keindahannya Dibawanya engkau mengitari mimpi sedangkan engkau fana Dan malam ini angin adalah mantera suci yang terkait menjadi perahu tempat kita berlabuh menuju abadi caio_rocks@plasa.com

Makanan Sisa

Lama aku memandang meja ; mengais ; biasa Tanganku enggan bercengkerama ; makanan sisa Asap lilin menipis, melekat di atap Tembok bersikukuh sesamanya melepaskan aroma tak sedap “ Kenapa kalian mengejekku “ lampu kristal bergemerincing Amarahku meledak – ledak Aku ada, aku ini ada Lalu……. Hilir mudik angin membawa hari itu Dimana aku menemukan sosokku yang lebih sempurna Tanpa nyawa E-mail : caio_rocks@plasa.com

Tawa

Apakah seluruh tawa harus aku pendam? bukankah tawa adalah suatu kebahagiaan yang selalu mengisi keceriaan hari dan terungkap lewat bibir – bibir mungil selepas sebuah gurauan kau ceritakan. Apakah seluruh tawa adalah milik para majikan? milik sebuah kelompok yang sengaja mengacungkan jari tinggi – tinggi ketika aku tak sengaja melihatnya dan beringsut lari tatkala seorang nenek tak dikenal datang meminta sedikit tawa. Apakah seluruh tawa hanya ada dalam mimpi? Mimpi seorang anak kecil di tengah kehangatan pelukan kedua orang tuanya dan membayangkan sesuatu yang indah ketika ia beranjak dewasa kelak. Apakah seluruh tawa hanya khayalan belaka? Khayalan seorang istri yang sedang menanti sang suami pulang dan berharap hari – hari ini akan berjalan seperti hari – hari sebelumnya penuh canda dan tawa dari suami yang tercinta. Apakah seluruh tawa bukan milikku? Apakah seluruh tawa bukan milik mereka? Apakah….? Ah aku tak bisa berkata, sekarang aku sedang tertawa...