Langsung ke konten utama

Postingan

Sajak Putih

buat tunanganku Mirat Bersandar pada tari warna pelangi kau depanku bertudung sutra senja di hitam matamu kembang mawar dan melati harum rambutmu mengalun bergelut senda

Mereka yang Tersayang

Duniamu, Gadis Kecil Dunia dari sudut pandangmu adalah warna-warni indah merayu penuh kemilau sinar menari yang kaudekap erat di hati Semesta dalam bola matamu bagai kilau intan berserakan yang kaupungut sambil senyum kegirangan dan tersisip di celah-celah kalbu Lorong waktu laksana taman di surga dalam jiwamu selalu lapang menyanyi, menari engkau dengan riang iringi simponi melaju masa

Pertemuan

perempuan mengirim air matanya ke tanah-tanah cahaya, ke kutub-kutub bulan ke landasan cakrawala; kepalanya di atas bantal lembut bagai bianglala

Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara

Manakala Sajak-sajak Berloncatan

1. Yang kutahu dari seketika adalah jarak antara pengakuan cintamu dengan kepergianmu. Aku linglung di simpang jalan, berharap angin sudi bergerak tunak ke tanjung cinta. Berharap dari sana dapat bermula cerita. Tapi, kita biarkan ketulusan pergi sebelum ia selesai mengajari kita rahasia kehilangan. Sesudahnya, kita sibuk saling menyalahkan.

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana: Dengan kata yang tak sempat diucapkan Kayu kepada api yang menjadikanya abu Aku ingin mecintaimu dengan sederhana: Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada Sapardi Djoko Damono, (1989)