aku tengah belajar lagi mencintaimu, Pur menganggap pertemuan ke sekian ini sebagai perjodohan mencoba lagi mengenal lekuk tubuh dan garis bibirmu meski jejak usia di sepanjang jalan tak juga mengingatkanku pada masa kanak dan riwayat bocah pencari tawa ada yang memang seharusnya hilang sebagai kenang di ruang lengang lama tak jumpa, kulihat kau berhias dipulas cahaya kota nyaris tak kukenali jika saja tak tercium aroma lembab yang ruap seluas kulit tubuhmu itu tak kubawakan apapun dari kota seberang hanya bingkis puisi yang kuharap tak segera jadi basi aku merindumu, seperti kerinduan pada ibu, pada suami ibu, dan saudara yang semakin barat tengah kudekapkan jiwaku pada tanah membaca detak jantung bumi, menebak apa kau sama debarnya dengan kecanggungan ini demi silsilah air di sepanjang genang mata kita ijinkan kusunting dadamu untuk kutata dengan sahaja telah bertanggalan tanggal, waktu laju, tak pernah tinggal jangan katakan usia perpisahan kita melebihi tahun-tahun kesetiaanku pada...