Langsung ke konten utama

Postingan

Stories of White Birds

(Diary of Long Life) : chapter two the night goes by the seagulls back to break the sun’s shadow they begun morning story about the life of Adam and Eve generation as long as dimention of time around the knowing proper behavior with the fairy tale of love, classical dreamin’, hopes and play it on the stage named world with dialogues that full of meaning word come out through some bones that keep the lungs life every breathe they have fun play with the wind blowing catch every parthicel of story from the expend of live’s white sand where ripples always fondle her lips and have jokes with coas son’s even they places gona be lose when every span of sand disputed and peoples be crow slumber casuarina trees with saw machine poetry courage test the power of shells with bomb they tell story each other the big one doesn’t want to lose with small one and the little one does (no want to disparaged) it has st...

Berselimut Asmara

    Jarak tak lagi menghalangi raga Di kamar ini tiada rahasia Antaramu .... Dan aku yang pasrah Kita telah begitu sama Menatap indah dalam samudera mata Dimana hembusan nafasmu adalah cinta Dekapmu jadi awal langkah kita Pagi kemudian menyapa begitu cepat Padahal kita masih berselimut asmara    

Mimpi Kelammu

aku hidup dalam kesendirian yang dalam kesendirian yang sedimikian gegap dipenuhi kisah kisahmu yang kelam berpuluh puluh bintang aku rangkum dalam selimut malam dan kujahit sisi sisinya dengan batu batu kutempatkan di bawah kepala. aku bermimpi tentang suatu masa bukan pagi atau senja bukan pula malam atau siang bagiku matahari tak lagi jadi petanda lantaran aku sendiri sudah diam bersamanya kita bertemu kelak di sana masa dimana kisah kisahmu terbuka kau yang bicara! melukis pagi dan senja juga malam dan siang aku mendengarkanmu seraya merebahkan diri dengan harapan agar kau mengerti betapa kelam kisah kisahmu itu hingga mampu menenggelamkanku dalam kesendirian yang dalam Malang, 5 maret 2006

Petisi Burung Burung

Petisi ini lahir dari pertemuan burung burung Dan hutan tergetar oleh nyanyiannya Ketika restu langit telah pasti tiba Burung burung kembali ke sarangnya Matahari telah di curi dari rumah kami Bulan pula tak pernah purnama lagi Segera siapkan bendera kita Besok tumpah kita serbu cakrawala Siapa akan berjaga malam ini Burung hantu mengerdipkan matanya yang lebar Di mana alamat kelelawar sang penghuni sunyi Sudah lama kepaknya tak terdengar Petisi ini sudah ditandatangani Burung burung telah siap menyongsong hari Malam ini dalam hati kita berjanji Kelak terbang merebut mimpi Siapa tinggal Siapa akan mati Aku memilih bergabung Menjadi rajawali Malang, 11 Maret 06

Hymne Tentang Mars

Sebegitu dalamnya resah ini, hingga menenggelamkan. Rusuh terasa batin dalam bening kesadaran. Aku berarak dengan jalan jalan, dengan ngarai, sungi kecil sejuk dan lautan. Aku nyanyikan di sepanjang jalan mars tentang kisah keberanian, meski di sini terdengar seperti hymne yang penuh sayatan. Aku pastikan cita cita tentang hari depan, hari depan yang kapan, katanya. Aku berjanji tentang harapan. Harapan serupa apa, cibirnya. Sebegitu dalamnya kegembiraan ini, hingga memabukkan. Orang orang hadir dalam pesta perjamuan, dihidangi berbagai minuman dan makanan. Gadis gadis pelayannya molek dengan kain baju berrenda sulaman bunga warna ungu, mengerling setiap saat dengan palsu. Aku duduk di tonjolan tanah berbatu, tak jauh dari situ. Dengan jalan jalan, ngarai, sungai sejuk dan lautan. Memandang dengan hening, dengan resahku yang sedalam ilusi mereka akan keabadian. Hidup dan kehidupan betapa sungguh tak sepadan. Malang, 11 Maret 05

Manusia Sentosa

Meringkik kuda manusia sentosa Kakinya mendepak batu batu Kemudian terangkat Manusia sentosa mengangkat pula pedangnya, Mengacungkan! Terlempar dari punggung kuda ia dan lebam Direjam batu batu Manusia sentosa memburu hidupnya Mempertaruhkan yang tersisa Tangannya yang berpedang lunglai Tubuhnya terkulai : entah malam akan sembunyikan lukanya   buat ia sebentar terjaga!

Tugas Pagi

Pintu subuh terbuka dan nampaklah rupa matahari Semalaman aku berjaga di ladang ladang ubi Di hati serangga tak menampakkan diri Tapi bernyanyi lagu lagu tanpa melodi Di saat tibalah berat kantuk di mata ini Segera pula kurogoh buah buah kunci Demi tunai tugas ini pagi:      bangunkan semua yang terlelap sodori seteguk air dari kendi penuhi harapan para pejalan hingga akan terasa berkah mimpi demi pagi yang letih.